Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Laduni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Laduni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2013

SHOLAWAT MOHON AMPUNAN


====ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA AALIHII WA’ITRATIHII BI ‘ADADI KULLI MA’ LUUMIL-LAKA ASTAGHFIRULLAAH AL ‘AZHIM LA ILAAHAA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH. YAA HAYYU YAA QAYYUUM =====

Semoga melimpahkan Berkah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarga besarnya dan keturunannya menurut jumlah segala sesuatu yang diketahui-Mu. Saya memohon pengampunan dari Yang Maha Agung, Tiada Dia selain Allah, Yang Maha Sempurna Hidup dan Diri berkelanjutan dan aku berbalik kepada-Nya dengan pertobatan. Wahai Yang Sesungguhnya Hidup dan Maha Sempurna.

Sholawat ini juga dirumuskan oleh Uwais Al Qorni. Seorang pemuda bermata biru yang hidup sezaman dengan Rasulullah SAW, ahli membaca Al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Pemuda dari Yaman ini yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.

Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?

Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.

Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, “Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidah Fathimah binti Muhammad SAW, sambil menjawab salam Uwais.

Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.

Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada Sayyidah Fathimah a.s. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah a.s. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi Sayyidah Fathimah a.s., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan Umar bin Khattab dan bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan Abu Bakar telah di estafetkan Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada Imam Ali a.s. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.

Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali a.s. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali a.s. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais.

Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Imam Ali a.s. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami!” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, “Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!” Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,

“Apa yang terjadi ?”
“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?” tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah!” katanya.
“Kami telah melakukannya.”
“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!”

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami.

“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”

“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.

“Ya, “jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.

Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Umar bin Khattab)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Inilah keistimewaan Uwais dibanding orang kebanyakan karena jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.

Sabtu, 01 Desember 2012

Khasiat dari Saefi Hirzul Yamani



Khasiat dari Saefi Hirzul Yamani sangat banyak sekali apabila di tulis Khasiatnya mencapai 200 Halaman,

Dalam kitab Kanzil Ma’ani diriwayatkan bahwa Syekh Abdul Qodir pada waktu pertama kali beliau menerima pangkat kewaliannya, beliau diliputi dengan sifat Jalaliyah Alloh, yakni sifat Keperkasaan-Kesaktian. Oleh karena itu namanya menjadi sangat sakti. Kesaktiannya telah terbukti bagi orang yang menyebut nama Syekh Abdul Qodir dengan bersikap secara tidak sopan, menyebut nama beliau dengan tidak punya wudhu, akan putus lehernya.

Pada waktu berjumpa dengan Rosululloh SAW., Rosul berpesan: “Wahai Abdul Qodir, sikap perilakumu itu jangan kau lakukan lagi, banyak yang menyebut nama Alloh dan namaku, mereka tidak bersifat sopan”.

Setelah menerima amanat beliau, saat itu juga sikap perbuatan itu beliau tinggalkan.

Banyak ulama Baghdad yang menghadap Syekh Abdul Qodir, mereka mengharapkan agar beliau melepaskan sikap perbuatan itu, mengingat banyak yang menjadi korban, dan merasa iba terhadap mereka. Syekh Abdul Qodir berkata :”Sesungguhnya hal ini bukanlah keinginan saya, saya menerima sabda dari Alloh yang isinya: “Kamu sudah mengagungkan nama-Ku, namamu juga ku agungkan”.

Para alim ulama mengemukakan yang menjadi sebab nama Syekh Abdul Qodir itu sangat sakti karena beliau selalu membaca Saefi Hizbul Yaman karangan Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah.

Setiap hari Seikh Abdul Qodir melaksanakan sholat sunnat seribu rokaat banyaknya, yang dibaca surat Mujammil, Surat Rohman. Bila membaca surat Al-lkhlas sekurang-kurangnya dibaca seratus kali. Setiap melaksanakan sholat fardu diakhiri dengan khatarn al-Qur’an. Tiap malam beliau membaca Asma Arbainiyyah enam ratus kali banyaknya, demikian pula pada siang harinya. Seusai sholat Duha, sholat Asar, dan ba’da sholat Tahajud beliau membaea doa Saefi, lalu beliau membaca Sholawat Kubro, Asmaul Husna. Asmaun Nabawi, dan setiap bacaan sebanyak seribu kali. *** اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان alloohhummansyur ‘alaihhi rohmataw waridlwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.

Saefi Hizbul Yamani khusus tuk kalangan Sufi Suryalaya hanya Wali Mursyid yang boleh mengijazahkannya Sulthonul Awlia Sayyidi Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin ( Abah Anom ) sampai beliau meninggal sampai hari ini tidak ada satupun para Ulama Suryalaya yang berani mengijazahkannya. Menurut Alm. KH. Dudun Nursaiduddin Putra tertua Abah Anom Saefi banyak sekali ada Saefi Nur, Saefi Dzul Fiqor, Ratu Saefi, Saefi Madi, Saefi Mughni, Saefi Alif, Saefi Ihtitam, Saefi Hirzul Mubarok, Saefi Magribi, Saefi Bumi,Saefi Angin, Saefi Geni, Saefi Lanang, Saefi Maslum, Saefi Burhan dll… induk dari semua Saefi adalah Saefi Hizbul Yamani. Saefi yang di amalkan di Suryalaya panjang bacaannya satu setengah halaman, sanad emas dari Mursyid ke Mursyid dari Sulthonul Awlia fi hadza Zaman Abah Anom ke Abah Sepuh berlanjut ke Syeikh Tolhah Kalisapu Cirebon bersambung terus sampai kepada Syeikh Abdul Qodir Jaelani qoddasallahu Sirrahu. Lafaz bacaan Saefi Hizbul Yamani di Kalangan Sufi Suryalaya sedikit berbeda.

Setelah ada izin Abah Anom tuk Saefi ini para ikhwan melakukan puasa kifarat selasa rabu kamis kemudian malam jum’atnya mandi taubat, dll… Juma’at menerima Ijazah Saefi Hirzul Yamani di amalkan selama 40 hari tidak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenis umumnya di baca 1 kali tidak boleh melebihi dari yang diperintahkan Guru Mursyid.

Keistimewaan Saefi Hizbul Yamani ini bila di amalkan terus menerus sampai akhir hayatnya dia masuk golongan Wali Allah… Amiin.

Kamis, 04 Oktober 2012

CARA MENDETEKSI BENDA BERTUAH


Kata “bertuah” seakan sudah menjadi kata milik jagad perdukunan alias jagad perklenikan. Terus terang, awalnya saya sangat ragu menggunakan kata “tuah” ini. Sebab kata ini mungkin sudah masuk daftar wajib sensor dan diharamkan. Kepada para Pembaca santri dan pak kyai yang budiman, saya mohon maaf…

Namun, kata inilah yang paling “umum” dan dikenal luas oleh masyarakat. Mohon maaf sebelumnya, bila saya terpaksa harus ikut-ikutan menggunakan kata “bertuah” ini. Tidak ada maksud sama sekali untuk ikut serta melanggengkan kepercayaan yang mungkin kurang pada tempatnya tersebut. Saya justeru berharap dengan artikel ini nantinya pembaca semakin mengenal hakikat benda-benda. Marilah kita mulai saja.

Pertama, benda-benda pada dirinya sendiri (das ding an sich) itu bebas nilai. Ia ada dan keberadaannya obyektif. Sementara yang memberi muatan nilai adalah manusia, sebagai sosok sang penilai. (sebenarnya ini juga bisa diperdebatkan,,… namun saya batasi dengan kalimat ini untuk kemudian nanti bisa didiskusikan bersama). Contoh: “celurit tetap celurit.” Substansinya ya celurit. Obyektif artinya kita semua bisa melihat celurit bersama-sama tanpa berubah substansinya.

Kedua, manusia sebagai sang penilailah yang memberi arti, makna, fungsi yang disesuaikan dengan fakta, faktor dan perannya masing-masing. Karena manusia yang memberi penilaian maka benda bisa bermuatan subyektif. Celurit bagi saya merupakan benda yang bermanfaat untuk membabat rumput yang liar tumbuh di halaman. Bagi polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan, ditemukannya celurit yang bersimbah darah akan menjadi barang bukti yang memiliki nilai tinggi di pengadilan. Bagi orang tua, celurit adalah benda berbahaya yang harus dijauhkan dari anak-anak. Dan seterusnya…

Kembali ke tema awal: apa benda “bertuah” alias “berenergi” itu?

Benda bertuah adalah benda yang sudah diberi muatan nilai tertentu oleh seseorang, nilai itu bisa berupa “kesaktian”, “kemanfaatan”, “keberkahan” dan seterusnya. Sifatnya jelas subyektif tergantung pada keyakinan dan pengalaman seseorang bersinggungan dengan nilai-nilai tersebut.

Ada yang menjawab bahwa benda dikatakan bertuah bila memiliki energi tertentu. Tolok ukur yang eksak misalnya yaitu sudut tinjau ilmu fisika. Bahwa setiap benda memiliki kerapatan atom, energi dan massa tertentu yang berbeda-beda sehingga materi benda bisa diukur dengan alat ukur tertentu.

Yang jelas, bila benda sudah diberi muatan nilai akan memiliki nilai subyektivitas tertentu…Marilah kita memperdalam sudut pandang ini.

Benda apapun itu, pasti memiliki sebuah “energi spiritual” tertentu. Benda tertentu akan memiliki keterlibatan dengan sejarah hidup seseorang. Saat melihat sebuah cincin kawin, ingatan saya langsung melayang pada saat pertama kali melamar isteri saya. Saat melihat keris, ingatan saya langsung melayang pada bagaimana hebatnya empu nenek moyang kita berjuang mati-matian untuk membuat benda cagar budaya tersebut. Dan seterusnya…

Energi spiritual yang melekat pada benda-benda oleh karenanya bisa dideteksi dengan mempelajari latarbelakang ‘ada’-nya benda tersebut. Itu sebabnya tombak kyai pleret yang tersimpan di Kraton Yogyakarta dipercaya “sangat bertuah” karena memiliki sejarah yang panjang. Atau Keris Kyai Sengkelat, atau yang lain dan seterusnya….

Mempelajari riwayat atau sejarah sebuah benda jelas memerlukan ilmu pengetahuan misalnya arkeologi, ilmu sejarah dan lain-lain. Ilmu yang demikian adalah hasil dari olah pikir para sarjana yang gentur membaca buku referensi dan akhirnya memiliki keluasan pengetahuan tentang sejarah sesuatu.

Namun, kita tidak menutup mata dengan adanya ilmu batiniah untuk menerawang benda-benda bertuah ini. Ilmu batiniah adalah sebuah fakta yang ada di masyarakat dan hingga kini masih lestari. Ini adalah budaya spiritual nusantara Indonesia yang adiluhung lho. Kita tidak boleh menutup mata dengan menganggap budaya asing lebih bernilai. Menghargai budaya asing disarankan, namun lebih luhur lagi juga menghargai budaya nenek moyang.

Untuk itu, ijinkan saya mengangkat kembali pengalaman para leluhur dulu untuk mendeteksi apakah sebuah benda itu bertuah atau tidak.

Benda yang dipercaya “bertuah” banyak wujudnya. Misalnya cincin berakik yang dipakai sebagai jimat, keris dan senjata tradisional lain yang dipakai sebagai piandel (pegangan), berbagai jenis bebatuan alami.

Terkait dengan soal bahan alamiah, biasanya mengandung unsur bio elektrik tertentu yang memang bisa dimanfaatkan sebagai alat kesehatan. Ada benda-benda yang mengandung unsur magnet alam sehingga bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah dan sebagainya… Cara mengenalinya dengan membuka-buka buku untuk mencari info tentangnya.

Ada juga cara mendeteksi dengan jalan mengoptimalkan peran batin kita. Batin sesungguhnya selain mampu untuk diajak mengenali hal-hal gaib juga mampu mengenali nilai esoteris dari benda-benda. Cara yang saya lakukan biasanya sebagai berikut:

Mengenali benda “bertuah”
1. Lihatlah dengan cermat benda tersebut.
2. Pakai atau pegang benda tersebut pelan-pelan saja
3. Bukalah mata “batin” yang intuitif, dan ketahui apa yang ada di dalam cincin… Rasakan energi batin apa yang muncul…dingin, panas, damai, kisruh, celaka, harapan, kasih sayang…dan seterusnya… Benda pasti memancarkan sejarah tertentu. Ia merekam dan menyerap sebuah fakta-fakta dan riwayat sejarah yang panjang. Ingat benda adalah saksi bisu yang bisa “bicara” yaitu bahasa alam.
4. Benda bertuah bisa mendatangkan efek negatif yang tidak kita sadari. Ini bisa akibat energi alamiah benda tersebut, namun juga ulah “sesuatu” yang metafisis.
5. Lebih dalam lagi, bila terasa ada “sesuatu” di dalam benda tersebut maka lakukan terus pendeteksian. “Sesuatu” yang saya maksud adalah makhluk halus. (Makhluk ini bisa mendatangkan perasaan gelisah, anak isteri tiba-tiba nakal, penghuni keluarga sakit-sakitan,… disamping mendatangkan efek, misalnya mudah cari uang, enteng jodoh dan sebagainya)
6. Bila pendeteksian belum berhasil, maka boleh menggunakan cara ini: Letakkan benda bertuah tadi di bawah bantal dan mohonkan pada Tuhan agar berkenan untuk memberikan informasi terkait benda tersebut. Makhluk halus biasanya muncul dalam mimpi…
7. Bila Anda mampu berkomunikasi dengan makhluk halus “penunggu” benda tersebut akan lebih baik. Anda bisa berbagi kebijaksanaan, dan mengajaknya untuk mengutarakan kenapa dia setia menunggui benda tersebut dan seterusnya.

Banyak benda bertuah yang diisi oleh paranormal/dukun dengan makhluk halus untuk tujuan macam-macam. Misalnya untuk jimat penglaris dagangan, enteng jodoh, pagar gaib dan sebagainya… Ini tentu saja perlu dicermati kemanfaatannya. Bila Anda merasa tergantung dengan cincik akik yang Anda pakai, apakah ini mendatangkan manfaat atau tidak baik di dunia maupun di akhirat? Benda tersebut mendatangkan kemanfaatan apa tidak dengan perkembangan spiritual kita khususnya berkaitan dengan ketauhidan kita pada Gusti Allah… Boleh jadi di dunia kita mendapatkan manfaat dengan keberadaan benda-benda tersebut, namun nanti di dunia kita akan mendapatkan celaka karena sudah masuk ke wilayah “Mempersekutukan Tuhan”.. jadi ya.. hati-hati…

Bila Anda merasa tidak bermanfaat dan Anda menyadari kesalahan bahwa Anda sudah terjebak dalam perilaku syirik, maka langkah Anda adalah melakukan penyingkiran makhluk halus penunggu benda-benda tersebut. Benda-bendanya sendiri tetap boleh dipakai dan dipergunakan sebagaimana biasanya. Toh, benda kan bebas nilai… yang memberi nilai kan kita sendiri. Jadi sesungguhnya OTAK MANUSIA lah yang syirik. Bukan keris, cincin akik, dan benda-benda budaya tersebut.

Tetap lestarikan budaya spiritual nusantara yang Adiluhung! Kepada semua saudara dari Sabang sampai Merauke…dari yang agamanya Islam, Hindu, Budha, Kristen, Kong Hu Cu, Taoisme, Aliran Kepercayaan apapun yang Anda anut..marilah kita bersama-sama hidup guyub dan rukun. Tuhan kita semua Satu, cara kita menyembahnya saja yang beda-beda….

Rahasiannya adalah : bismillah,,,,,,,,,, dengan nama alloh yang maha pengasih lagi penyayang,,kalo kita iklas pasti kita bisa,,,,,,,,,,,,,, sukses

AMALAN SEMBUH SAKIT GIGI


Baca surat Al Fatihah 1 X dalam satu tarikan nafas
Suruhlah penderita duduk di dekat Anda dan bacalah kalimat ini:
ABAJADUN HAWAZUN HATHAYA.

Ambil palu dan paku. Pukulkan palu ke paku yang ditancapkan ke tembok/dinding/papan. Bila belum berhasil, ulangi dari awal.

AMALAN UNTUK ANAK REWEL


Anak rewel, menangis terus menerus tanpa sebab yang jelas, penyebabnya dimungkinkan adalah karena diganggu makhluk halus. Bila orang tua mencurigai hal ini maka yang perlu dilakukan adalah membaca mantra di bawah ini:

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM,
ENDANG KUNING RATUNING SAWAN, MORO DIPO PATIHING SAWAN, DATA, DATI, DATAN, OJO SIRA NEMPEL ANAK-ANAK PUTU ADAM. SIRO BALIYO MENYANG NEGARAMU GUNUNG SERANDIL. YEN SIRO ORA GELEM BALIK TAK GEBLAK DADI GLEPUNG, MUSNO ILANG DADI ANGIN, HIYO AKU WERUH SAKABEHE LELEMBUT, IKI KABEH SAKING PITULUNGANE ALLAH (1x)

Tiupkan mantra yang sudah dibaca ini pada telapak tangan dan usapkan pada wajah anak serta tiupkan pada telinganya. Insya Allah anak itu tidak akan rewel lagi.

Jumat, 15 Juni 2012

AJARAN BONANG "KESAKSIAN DALAM DIAM"


“Jangan bertanya, Jangan memuja nabi dan wali-wali, Jangan mengaku Tuhan, Jangan mengira tidak ada padahal ada, Sebaiknya diam, Jangan sampai digoncang oleh kebingungan…”

Kenapa kita disarankan oleh Sunan Bonang untuk diam khususnya saat membicarakan soal-soal makrifatullah sebagaimana yang tertera dalam suluk Jebeng? Sebab, daripada sesat karena bila belum mengalami sendiri keadaan makrifat, maka yang biasa terjadi adalah saling beradu argumentasi untuk nggolek benere dhewe, nggolek menange dhewe padahal kasunyatannya tidak seperti yang digambarkan masing-masing orang…

Maka, kita diminta untuk diam dan suatu saat semoga kita mampu untuk menyaksikan sendiri dan membuat kesaksian terhadap eksistensi-Nya yang maha tidak terhingga atau diistilahkan oleh Sunan Bonang sebagai SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini adalah pemberian Tuhan kepada seseorang yang diistimewakannya sehingga ia mampu menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan. Marilah kita mencebur lebih dalam hal ini….

Agama dari langit sudah sangat lengkap memadukan aspek lahiriah (syariat/aturan/hukum/fiqih yang mengikat tubuhnya) dan juga aspek perjalanan batin manusia menuju kebersatuan dengan Tuhan Semesta Alam. Memahami dari aspek lahir saja, tidak akan mampu memberikan kedalaman pengalaman batin manusia. Sebaliknya, agama yang dipahami dari sisi batin saja, biasanya cenderung mengabaikan aturan dan hukum kemasyarakatan sehingga bisa jadi dianggap sesat oleh masyarakat.

Yang ideal memang memahami agama sebagai jalan yang lapang menuju Tuhan secara sempurna dengan tidak mengabaikan salah satu aspek, apakah itu aspek lahir maupun aspek batin. Bila aspek lahir dipelajari dalam disiplin ilmu syariat/fiqih/hukum serta ilmu logika/mantiq dan lainnya. Maka aspek batiniah digeluti dengan pendekatan ilmu tasawuf. Bila kita belajar ilmu tasawuf, maka tidak bisa tidak kita akan mempelajari sejarah tasawuf dari masa ke masa, riwayat hidup para sufi dan istilah-istilah ruhaniah manusia.

Tidak mudah untuk belajar tasawuf. Berbeda dengan belajar syariat/fiqih/hukum maupun filsafat yang dasarnya adalah olah pikir atau logika, maka tasawuf dasarnya adalah olah rasa untuk menyelami sesuatu yang metafisis dan abstrak. Kita tidak mampu menggali kedalaman samudera tasawuf jika tidak menyelami sendiri dimensi-dimensi batiniah manusia.

Tasawuf bukanlah ilmu yang teoritis, melainkan praktek (ngelmu)…. Bisa dengan dzikir sejuta kali di mulut, bisa juga dengan dzikir semilyar kali di batin siang malam tanpa henti…. Ini tidak lain untuk menghancurkan kerak-kerak hati yang lalai dan kemudian digelontor dengan puji-pujian kepada-Nya dan seterusnya…. Ini hanya satu latihan ruhani yang harus dilakoni pejalan mistik saja, substansinya justru bukan dzikir atau mengingat-Nya saja. Melainkan bagaimana setelah mengingat-Nya, dan mendapatkan kesaksian akan kebenaran absolut-Nya, seseorang itu kemudian mampu berbuat sesuatu sesuai dengan iradat-Nya!!!

Dimensi batiniah manusia bisa diketahui dari bagaimana seseorang itu menempuh jalan spiritual yang melewati melalui berbagai tahapan (maqom). Dalam setiap tahapan, seseorang akan mengalami keadaan ruhani tertentu, sebelum akhirnya penglihatan batinnya terbuka terang benderang yang dalam khasanah tasawuf disebut disebut makrifat secara mendalam tanpa keraguan.

RASA BATIN yang sering disebut dalam tasawuf yang ialah: • tahap pertama WAJD (EKSTASE seperti Musa AS), selanjutnya • DZAUQ (RASA MENDALAM terhadap kehadiran-Nya), • kemudian SUKUR (KEGAIRAHAN MISTIS untuk bermesraan dengan-Nya), • berlanjut ke perasaan FANA atau menghilangnya diri yang benda lahir, • BAKA (kekekalan di dalam Dzat-Nya kemudian • FAKIR.

Apa itu FAKIR? yaitu adalah keadaan ruhani dimana pejalan spiritual menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali dimiliki-Nya. Seorang fakir tidak memiliki kemelekatan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan diri jasmani dan kebendaan. Namun demikian, dia tetap tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Inilah esensi Tauhid: Yaitu Tiada Tuhan Selain Allah…

Kita bisa memahami bagaimana hakikat kefakiran itu dari apa yang disampaikan para pejalan spiritual. Sekarang, marilah kita sedikit membuka berbagai karya para pejalan spiritual yang disebut Suluk yaitu satu jenis hasil olah rasa berbentuk prosa atau puisi yang dibuat kaum mistikus Jawa, yang berisi pengalaman perjalanan ruhani saat bercinta dengan Dzat-nya.

Karya Sunan Bonang yang penting untuk menggali bagaimana keadaan atau suasana kesadaran tertinggi kaum sufi yaitu SULUK GENTUR. Gentur berarti teguh dan giat, yaitu sebuah bentuk aktivitas ruhanian yang paling sempurna. Di suluk itu digambarkan bahwa seorang penempuh jalan tasawuf harus melaksanakan SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini berupa KESAKSIAN DALAM DIAM, TANPA BICARA. NAMUN BATINNYA MEMBERIKAN KESAKSIAN BAHWA EKSISTENSI DIRINYA ADA KARENA ADA-NYA.

Permisalan yang mudah adalah persenyawaan antara dua dzat. Salah satu dzat tidak akan otomatis hilang, namun masing-masing berdiri sendiri. sebagaimana Kawulo tetap kawulo dan Gusti tetap Gusti. Yang lenyap dalam persenyawaan dua dzat itu hanyalah kesadaran sang kawulo akan keberadaannya yang TIDAK ADA.

Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah ‘keadaan dapat MERASAKAN DALAM BATINNYA kebenaran hakiki sebagaimana dalam kitab suci: “SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA”.

Bonang dalam suluknya ini berpesan bahwa, bahwa Hati yang merupakan “RUMAH/DALEM/AKU-NYA TUHAN”. Kehadiran-Nya bisa dirasakan bila hati itu ikhlas, nrimo dan sumarah. Di dalam hati yang seperti itu, antara Kawulo dan Gusti lenyap. Yang terasa adalah kesadaran bahwa sejatinya manusia (obyek) selalu diawasi oleh Tuhan (subyek), yang menyebabkan dia tidak lalai sedetikpun kepada Nya.

Dan terakhir, ….Bonang berpesan: “Pencapaian sempurna bagaikan orang yang sedang tidur dengan seorang perempuan, kala bercinta… Mereka karam dalam asyik, terlena hanyut dalam berahi… Anakku, terimalah dan pahami dengan baik. Ilmu ini memang sukar dicerna.



Kamis, 10 Mei 2012

INTI BELAJAR ILMU GHAIB


Bagi yang merasa sering gagal dalam belajar ilmu ghaib hal itu bisa jadi disebabkan karena belum mengerti inti ajaran dari suatu amalan ilmu ghaib. Jangan berpikiran seperti anak TK yang manja, merasa bila sudah ikut perguruan ini-itu lalu akan langsung bisa. Guru hanyalah seorang pembimbing. Faktor keberhasilan kembali kepada kesungguhan diri masing-masing. Bagi yang telah senior cukup dengan memahami serat Syech Siti Jenar ini saja sudah cukup menjadi petunjuk menuju jalan keberhasilan.

Sajati jatining ngelmu,
Lungguhe cipta pribadi,
Pustining pangestinira,
Gineleng dadya sawiji,
Wijanging ngelmu dyatmika,
Neng kahanan eneng-ening.

Artinya kurang lebih adalah : Hakekat ilmu yang sejati, Terletak pada cipta pribadi, Maksud dan tujuannya, Disatukan adanya, Lahirnya ilmu pamungkas, Dalam keadaan sunyi, jernih.

Khasanah dunia ghaib hanya bisa ditembus dengan kondisi MEDITATIF. Artinya kondisi yang tenang, hening, suwung yang meliputi RAGA, PIKIRAN dan JIWA. Untuk mencapai kondisi tersebut perlu sarana latihan (riyadhoh). Misalnya dengan cegah makan (puasa), cegah tidur (melek), tekun membaca Dzikir Doa-mantra, tekun dalam olah nafas prana dan tekun Meditasi. Semua itu tentunya ada baiknya dibimbing oleh seorang Guru, atau berijazah.

Ketenangan RAGA bisa dicapai dengan sarana riyadhoh cegah makan, cegah bebaban (mengendalikan nafsu seksual), cegah berbuat jahat (nafsu angkara murka) semua itu terangkum dalam amalan yang disebut PUASA.
Ketenangan PIKIRAN bisa dicapai dengan sarana riyadhoh intopeksi diri, mengikuti kajian ilmu, mendatangi tempat-tempat bernilai spiritual, melakukan meditasi di sawah nan hijau, pantai dan gunung.
Ketenangan JIWA bisa dicapai dengan sarana riyadhoh membaca wirid Doa-Mantra, sembahyang, takafur, bermeditasi, melakukan Tarian Jiwa dan latihan berlalu jujur.

Semua itu dirangkum menjadi satu kesatuan ritual (lelaku), maka akan menumbuhkan keadaan tenang dan pasrah yang akan menuntun kedalam keheningan.

Tidak ada gunanya anda mampu berpuasa berhari-hari, rajin membaca wirid doa-mantra siang-malam bila semua itu tidak bisa menciptakan kondisi yang hening atau suwung. Semua amalan hanya sia-sia, tidak akan tembus alam ruhani, alam keghaiban. Kondisi hening tidak bisa disugestikan dengan sekedar kata hening..hening..hening. Tetapi kondisi hening adalah produk nyata dari ketenangan (kepasrahan) Raga, Pikiran dan Jiwa. Tidak bisa direkayasa, apalagi dengan menggunakan opium, candu, narkotika seperti dalam ritual ilmu hitam, semua itu bentuk ke-fana-an semu!


ILMU PENGASIHAN


Tidak bisa dipungkiri meski kita hidup dijaman era teknologi dan internet, tapi sebagian masyarakat dinegeri ini masih ada yang mengamalkan ilmu Pelet. Karena urusan “cinta” memang tidak terpengaruh oleh jaman. Akan selalu menarik untuk diselami dijaman apa saja.

Istilah “Cinta Ditolak Dukun bertindak” sekarang saya ganti menjadi “Cinta Ditolak, Ilmu Pelet bertindak” hehehe… Boleh-boleh saja tho? Lha..dijaman serba internet sekarang ini untuk mendapatkan ilmu pelet tidak harus datang ke dukun koQ. Sudah banyak ilmu-ilmu pelet yang dijabarkan didunia maya ini. Walaupun banyak juga yang ngawur, baik riwayat, rapal doa/mantera maupun ngawur tatacara ritualnya. Tak heran bila banyak yang gagal, akhirnya merasa tertipu ilmu ghaib, dan akhirnya malah bikin tambah ruwet masalah.

Ilmu Pelet apapun itu jenis rapal manteranya, media peletnya dan cara penggunaannya tapi cara kerjanya sama. Mirip seperti hipnotis yang sering Romy Rapael lakukan di TV itu. Cuma bedanya bila hipnotis itu tidak menggunakan Aji Mantera, tanpa ritual yang aneh-aneh untuk mempengaruhi korbannya. Sedangkan Ilmu Pelet kebanyakan menggunakan mantera, ritual atau benda tertentu (jimat) untuk dapat mempengaruhi orang yang jadi sasaran pelet. Lebih ekstrimnya Ilmu Pelet itu mempunyai kesan “memaksa”. Tapi keduanya mempunyai kesamaan, yaitu mempengaruhi alam bawah sadarnya seseorang.

Jadi Ilmu Pelet artinya ritual ilmu yang mengandung kekuatan ghoib untuk menebarkan hasrat yang diinginkan, menaklukan hati seseorang agar menjadi cinta, namun cenderung memiliki unsur pemaksaan. Kenapa disebut pemaksaan, karena kerja ilmu pelet itu mendayagunakan kekuatan gaib yang dapat mengambil alih kontrol pikiran sang korban. Sehingga yang awalnya benci seketika setelah terkena ilmu pelet langsung bisa berubah menjadi cinta. Awalnya sombong menjadi takluk setengah mati mengemis cinta. Bahkan bisa gila bila tidak ditemui oleh orang pelaku ilmu Pelet. Dari sini tampak jelas, ada unsur pemaksaan, perubahan jiwa (cinta) tidak natural, tidak berjalan alami. Dan hanya dengan media kekuatan gaib yang bisa melakukannya.

Contohnya adalah seseorang yang terkena Ilmu Pelet Jaran Goyang (Jaran= kuda), maka orang tersebut akan menjadi tergila-gila, cinta setengah mati kepada sang pelaku pelet, sering mengigau memanggil-manggil nama pelaku pelet tadi. Dan bila dalam jangka waktu tertentu tidak ditemui oleh sang pelaku pelet maka korban bisa saja gila beneran. Korban akan menjadi tenang setelah pelaku pelet memberinya obat penawar, biasanya berupa air putih yang telah dibacakan mantra Penawar Ajian Jaran Goyang. Saat itu korban tidak lagi mengigau tidak jelas seperti orang gila, akan menjadi kelihatan normal namun tetap dalam pengaruh pelet Jaran Goyang.

Berikut Ajian Jaran Goyang yang pernah saya dapatkan dulu ketika masih gandrung(suka) berburu ilmu-ilmu gaib. Saya dokumentasikan hingga sekarang.

“Sun matek ajiku si Jaran Goyang tak goyang ing tengah latar upet-upetku lawe benang pet sabetake gunung gugur, pet sabetake lemah bangka, pet sabetake segara sat, pet sabetake ombak gede sirep, pet sabetake atine si ….bin… cep sido edan ora mari-mari yen ora ingsun sing nambani.”

Mantera pengobatannya:

“Sun matek ajiku si Jaran Goyang, Kaki danyang Nyai danyang kompi jenggot sing nempel neng engone si…balio nang….(dan seterusnya).

Nampak jelas, dari rapal manteranya, korban akan menjadi gila bila tidak diberi penawar oleh sang perapal ilmu Ajian JaranGoyang. Dari mantera penawarnya, sang perapal Ajian pelet ini menyuruh pergi (balik) makhluk halus dari Ajian Jaran Goyang yang bersemayam di badan sang korban.

Untuk mendapatkan ilmu Pelet, sekarang tidak sulit lagi, tidak perlu ke dukun, seperti yang saya katakan diatas. Kemajuan teknologi memberi berbagai kemudahan untuk mendapatkan berbagai informasi. Tak terkecuali tentang Ilmu Pelet. Meski banyak juga yang mengajarkan ilmu setengah-setengah, tanpa mantera penawarnya. Entah apa jadinya kalau benar-benar diamalkan, tahu-tahu korban jadi gila teriak-teriak memanggil nama sang pelaku pelet, apa tidak malu tuh? Ketahuan donk kalau sedang pake ilmu Pelet. Hehehe…

Intinya darimana pun ilmu Pelet itu didapat, selama benar rapal mantera, tatacara ritualnya dan syarat-syaratnya terpenuhi, maka tidak mustahil seseorang bisa berhasil menguasainya.

Gaya bahasa rapal mantera ilmu Pelet bermacam-macam, biasanya tergantung dari daerah mana mantera pelet itu berasal. Ritualnya biasanya menggunakan puasa Mutih, Ngebleng, Patigeni dll. Media Pelet bisa berupa energi sugesti, bisa juga energi langsung Jin (makhluk gaib), media jimat seperti buluh perindu, minyak mani gajah, boneka (voodoo), rambut, kain yang pernah dipakai sang korban, atau kain mori dari orang mati dan sebagainya.

Pengaruh ilmu pelet bisa berlangsung singkat, namun juga bisa bertahun-tahun, bahkan ada yang sampai langgeng seumur hidup. Tergantung kadar besarnya kekuatan pelet yang bersemayam didalam diri korban. Saya pribadi pernah mendapati sepasang kekasih dari hasil ikatan asmara yang tidak wajar ini. Bahkan ada yang sampai punya anak dua yang sudah beranjak dewasa. Biasanya yang sampai langgeng bertahun-tahun ini, ilmu pelet yang digunakan tidak hanya sekedar Aji Mantera namun sudah menggunakan media benda gaib, seperti Buluh perindu, Minyak Pelet, Benang merah (tali berwarna merah yang diikatkan diperut) atau model-model jimat lainnya. Dan jimat ini dijaga oleh pelaku pelet dengan hati-hati jangan sampai rusak atau hilang. Jangan tanyakan kepada saya, bagaimana bila jimat ini sampai hilang?? Tentu sudah bisa ditebak apa yang bakal terjadi!

Demikian kajian tentang Ilmu Pelet ini, semoga bisa menambah wawasan kita.

Sebagai catatan :

Dalam mimbar ini saya tidak mengajarkan ilmu tersebut. Artikel diatas adalah wacana mengenai Kajian Ilmu Pelet, dan yang dijadikan contohnya adalah Aji Jaran Goyang. Maka kepada para pembaca yang budiman mohon dapat membedakan antara artikel yang bersifat KAJIAN dan artikel yang bersifat TUNTUNAN amalan ilmu. Semoga dapat dimengerti.


KAJIAN ILMU KULHU SUNGSANG


Ilmu Gaib Untuk Menangkis Serangan Santet

Dalam khasanah ilmu gaib ada ajian yang berfungsi untuk menghadapi makhluk halus, sihir, santet dan sejenisnya. Ilmu ini sangat kondang didunia mistik Jawa dan sangat ampuh untuk menaklukan makhluk halus. Ada 4 jenis ilmu yang serupa dengan rapal yang berbeda, namun memiliki kesamaan nama depan yang diawali dengan “KULHU”. Salah satunya adalah yang bernama KULHU SUNGSANG. Bunyi manteranya sebagai berikut.

“Kulhu Sungsang, Rajah Iman, Kudungku malaikat Jibril, Tekenku Nabi Muhammad Rasuulullah Shollallahu ngalaihi wasallam.”

Namun ritual untuk mendapatkan ilmu gaib ini cukup susah, yaitu dengan menjalani Patigeni selama 3 hari. Yang dimulai dihari Selasa Kliwon. Ritual patigeni adalah mengurung diri dalam ruangan yang sangat gelap gulita, tidak boleh makan, minum dan tidak boleh tidur.

Di mimbar ini saya tidak bermaksud untuk mengajarkannya kepada pembaca, namun hanya ingin mengajak mengkaji Ilmu legendaris ini.

Ajian Kulhu Sungsang merupakan warisan dari Wali Allah yang ketika itu mengalahkan panglima jin dipulau Jawa. Yang keilmuannya diambil dari Ayat 1 Surat Al-Ikhlas, kemudian dilanjutkan dengan doa dalam bahasa Jawa. Jadi Ajian Kulhu Sungsang bisa dikategorikan sebagai hizb, hanya saja formatnya dalam bahasa Jawa.

Riwayat ILMU KULHU SUNGSANG

Alkisah riwayat ilmu Kulhu Sungsang ini lahir ketika jaman wali songo. Saat itu pengaruh hal-hal yang bersifat ghaib sangat kental dikehidupan masyarakat Jawa (kejadiannya tepatnya didaerah Jawa Timur – menurut penelitian saya). Makhluk halus sangat diagung-agungkan, hingga seolah-olah manusia dibawah kendali para JIN. Akhirnya terjadilah berbagai macam bentuk pemujaan yang dilakukan masyarakat kepada makhluk halus, karena begitu takutnya dengan pengaruh ghaib ini.

Kemudian muncullah salah satu tokoh dari Wali Songo. Ada yang meriwayatkan beliau adalah Sunan Ampel, tapi ada juga yang mengkisahkan beliau adalah Sunan Bonang (putra Sunan Ampel). Yang bermaksud menghentikan semua ulah para makhluk halus tersebut.

Singkat cerita lalu terjadilah peperangan antara Sunan dengan Panglima JIN yang menguasai tanah Jawa. Dan dimenangkan oleh sang Sunan. Ilmu yg digunakan oleh Sunan adalah berlandaskan ilmu Tauhid (mengesakan Tuhan – Surat Al Ikhlas). Kemudian dibuatlah semacam perjanjian yang intinya adalah bila ada anak turun Sunan yang membaca potongan Qulhu (yang kemudian dikenal sbg macam-macam ajian KULHU) maka para Jin dan kawan-kawannya di tanah Jawa harus segera menghentikan seluruh aktivitasnya mengganggu orang tersebut.

Maka sejak saat itulah ilmu Kulhu Sungsang dikenal sebagai ilmu yg efektif untuk mengusir Jin, khususnya di tanah Jawa ini.

Makna ILMU KULHU SUNGSANG



“Kulhu Sungsang, Rajah Iman, Kudungku malaikat Jibril, Tekenku Nabi Muhammad Rasuulullah Shollallahu ngalaihi wasallam.”

“Kulhu Sungsang” merupakan bacaan niat sebagai penekanan Sugesti diri sebelum membaca keseluruhan ajian Kulhu Sungsang ini. Seperti halnya dalam ajian-ajian lain, misalnya diawali membaca “Sun Amatek Aji…” atau “Niat Ingsun matek ajiku…” dan sejenisnya.

Disini makna dari “kulhu sungsang” adalah ilmu gaib yang mengakibatkan segala bentuk kejahatan magis seperti santet, semakin terhijab (tertutup) dan terjungkir sasarannya dari orang yang hendak dituju. Artinya ilmu Kulhu Sungsang sejatinya bukan untuk mengembalikan santet agar berbalik menghantam kepada orang yang menyantet. Tidak seperti yang telah dipahami masyarakat selama ini. Jika ingin bermaksud mengembalikan santet, maka ada ilmu tersendiri yaitu Kulhu Buntet atau lebih dikenal dengan sebutan Aji TanggulBalik.

“Rajah Iman”: Rajah bisa diartikan tulisan-tulisan yang dijadikan sebagai piranti / prasarana / media dalam ilmu-ilmu gaib. Jadi “rajah iman” bermakna: yang dijadikan sebagai piranti gaib dari sang pemilik ilmu Kulhu Sungsang adalah IMAN. Keimanan kepada siapa? Tentunya kepada Gusti Allah SWT. Karena pada hakekatnya “tiada daya dan kekuatan kecuali pada Allah”. Tapi daya dan kekuatan itu telah dijadikan kodrat bagi makhluk-NYA. Dan seperti kita ketahui, makhluk-makhlukNYA (malaikat, jin, manusia, bahkan alam semesta) mewujudkan daya dan kekuatan dari Tuhan itu dalam bentuk yang berbeda-beda.

Daya-daya siapa sajakah yang dihadirkan dalam ilmu Kulhu Sungsang ini? Maka diterangkan dalam rapal mantera berikutnya, dengan bacaan: “kudungku Malaikat Jibril”.

“Kudung” atau bahasa lainnya “kerudung” adalah sesuatu yang digunakan untuk menyelimuti bagian badan (biasanya dipakai dikepala). Disini penggunaan kata “kudung” lebih berarti menyelimuti seluruh badan sang pemilik ilmu Kulhu Sungsang. Jadi bukan menyelimuti sebagian badan atau kepala saja, tapi seluruhnya.

Hal ini sesuai dengan budaya bahasa mantera di Jawa. Tengoklah seperti dalam Ajian WEWE PUTIH yang berbunyi: “…kudungono mego mendhong cat tan katon…” Ajian Wewe Putih adalah ajian yang membuat badan pemiliknya jadi samar / tidak kelihatan oleh musuh. Kata “kudungono” dalam rapal mantera itu berarti menyelimuti seluruh tubuh. Tidak hanya kepala saja yang tak kelihatan (menghilang) tapi seluruh tubuhnya. Itu artinya penggunaan kata “kudung” dalam mantera Jawa bermakna menyelimuti seluruh tubuh.

Kudung dapat berupa kain, daun, plastik atau jenis benda materi lainnya, tapi juga bisa berupa nonmateri, seperti energi gaib, cahaya, sinar atau aura yang menyelimuti tubuh.

Disini daya malaikat Jibril dihadirkan sebagai “kudung” atau kerudung. Berangkat dari kisah Nabi Muhammad SAW suatu ketika pernah terkena sihir dari Labid bin Al-A’sham dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi. Kemudian malaikat Jibril hadir dan membacakan doa mantera (merukyah) untuk melepas ikatan sihir tersebut. Dan akhirnya Nabi pun selamat dari sihir itu. Jadi seolah-olah Nabi senantiasa mendapat pengawalan gaib dari malaikat Jibril dalam dirinya (tentu dengan ijin Allah SWT).

Dengan menyakini sepenuhnya bahwa daya Malaikat Jibril juga akan menyatu menyelimuti (meng-kerudungi) pembaca ajian KULHU ini, maka diri si pembaca atau pemilik ilmu Kulhu Sungsang ini juga akan terlindungi / selamat dari sihir, santet, tenung dsb, sebagaimana Nabi pernah selamat dari sihir dengan bantuan dari malaikat Jibril.

Kemudian Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dihadirkan sebagai daya “teken” (tongkat). “tekenku Nabi Muhammad… dst”

Teken (tongkat) biasanya dipakai oleh orang yang lanjut usia / lemah badannya, untuk menopang badannya agar tidak ambruk demi kelangsungan hidupnya.

Teken (tongkat) biasanya juga dipakai oleh para jawara, orang sakti sebagai senjata atau pusaka.

Teken (tongkat) biasanya juga dipakai oleh para pejabat / raja (tongkat Komando) sebagai penambah aura kewibawaan / meninggikan derajat atau sebagai anugerah kehormatan dari Pangeran / Raja.

Teken (tongkat) biasanya juga dipakai oleh orang buta, sebagai penuntun jalan.

Rapal “Tekenku Nabi Muhammad” bukan berarti Diri badan Nabi dijadikan sebagai tongkat (teken), tetapi ajaran yg dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai tongkat penuntun jalan (pedoman hidup) yang dapat meninggikan dejarat orang yang mengimaninya sebagai salah satu anugerah dari Gusti Pangeran (Tuhan Yang Maha Kuasa) sekaligus sebagai senjata melawan musuh (orang jahat/kafir/jin), untuk menopang kelangsungan hidup.

Kemudian rapal mantera ditutup dengan shalawat Nabi, sebagai bentuk rahmat (keselamatan).

Maka seseorang yang didalam jiwanya telah mengerti hakikat sejati dari ilmu Kulhu Sungsang ini, maka tiada lagi ketakutan kepada makhluk halus. Ketika dalam perenungan ritual Patigeni, dalam gelapnya ruangan, terpancarlah NUR (cahaya) gaib yg menyelimuti diri, seperti lentera yang cahayanya menyilaukan, hingga membuat silau mata makhluk halus, santet, tenung dsb, akhirnya terjungkirlah (sungsang) tidak mengena sasaran.

Sebenarnya Ajian Kulhu Sungsang ini tidak berdiri sendiri, masih harus dilengkapi dengan 3 ajian Kulhu lainnya. Karena merupakan satu benteng yang saling terkait. Dan mempunyai posisi pada lapisan-lapisan tersendiri yang tidak bisa dibolak-balik. Namun penjabaran dari saya cukupkan sekian dulu.

Mohon maaf kepada para pinisepuh ahli mantera apabila saya salah dalam menjabarkan. Semata-mata merupakan hasil dari kajian pribadi saya selama pengembaraan ngelmu.


TENTANG ILMU PENGASIHAN, MAHABBAH & PELET


Ilmu Pengasihan adalah salah satu cabang ilmu spiritual yang tujuannya untuk menumbuhkan rasa cinta kasih dihati orang yang kita tuju. Dalam kehidupan sehari-hari sering disebut sebagai mantra aji pengasihan, ilmu mahabbah dan ilmu pelet.

Ritual dan rapal Ilmu pengasihan banyak jenisnya. Namun pada dasarnya Ilmu Pengasihan dibagi dalam 2 jenis. Umum dan khusus.

Ilmu pengasihan yang bersifat umum, artinya ditujukan kepada semua orang yang melihat agar jadi sayang dan asih. Ilmu pengasihan jenis ini lebih menonjolkan aura kharismatik, ketampanan, kecantikan (inner beauty) dari diri sang perapal ilmu pengasihan.

Ilmu Pengasihan Khusus artinya Ilmu pengasihan yang khusus hanya ditujukan kepada seseorang saja, agar orang tersebut jatuh cinta kepada orang yang merapal ilmu Pengasihan. Jenis ini orang awam sering menyebutnya sebagai Ilmu Pelet.

Ciri khas ilmu pengasihan umum dapat dicermati dari rapal doa / mantra-nya yang tidak ada penyebutan nama seseorang yang dituju. Jadi bersifat umum, ditujukan untuk semua orang yang memandang.

Berbeda dengan Ilmu pengasihan khusus yang pasti menyebutkan nama orang yang hendak dijadikan target agar jatuh hati kepada sang perapal ilmu Pengasihan. Contoh Ilmu pengasihan jenis ini yang sudah tersohor antara lain Jarang Goyang, Semar Mesem, Setan Kober dll.

Prinsip kerja antara ilmu pengasihan Umum dan Khusus (ilmu pelet) pada dasarnya berbeda. Ilmu pengasihan umum lebih menekankan pada sugesti diri hingga memunculkan aura gaib yang menyelimuti tubuh sang perapal ilmu pengasihan. Kemudian muncullah aura kharismatik dan inner beauty yang besar hingga membuat orang yang memandang merasa senang, sayang dan kasih.

Sedangkan dalam ilmu Pengasihan Khusus (ilmu Pelet), karena dalam rapal doa/mantranya khusus ditujukan kepada seseorang, maka energi yang terkumpul dari ritual pengasihan ini akan terfokus dan tertuju kepada orang yang jadi sasaran tersebut.

Energi ini bisa berupa Cuma sebatas sugesti, (jenis energi ini jarang suksesnya) tapi ada juga energi dari makhluk halus seperti jin/khodam. Jenis ilmu pengasihan yang bisa menghadirkan energi makhluk halus inilah yang bisa membuat korban (orang yang dipelet) bisa sampai cinta tergila-gila (tidak wajar). Tentu sebabnya sudah jelas, ada makhluk halus yang telah mengambil alih kontrol pikiran sang korban, mendungukan kesadarannya. Hingga tidak bisa menolak bila diminta, dan tidak bisa marah walau sebelumnya punya rasa benci setengah mati.

Jadi bila ingin mempelajari ilmu pengasihan tinggal pilih jenisnya.

Teringat pesan salah seorang mendiang Guru spiritual kepada saya. Beliau berkata sebagus-bagus ilmu yang diamalkan oleh seorang pemuda adalah ilmu pengasihan. Bukan ilmu kanuragan, bukan ilmu kekebalan, bukan pula ilmu Gaib (trawangan dsb). Ilmu pengasihan adalah bekal yang lebih bermanfaat dibanding ilmu-ilmu ghaib lainnya dalam mengarungi kehidupan anak muda dijaman modern ini. Disini yang beliau maksud adalah Ilmu Pengasihan yang bersifat umum.

Awalnya saya kurang setuju, karena background saya sebelumnya berawal dari ilmu-ilmu kanuragan semacam Tenaga Dalam. Layaknya anak muda penginnya yang jaduk, ilmu aliran keras. Namun ternyata apa yang beliau katakan itu banyak benarnya. Di jaman sekarang ilmu kanuragan tidak banyak gunanya lagi, tak seperti jaman perang dulu.

Seseorang yang membekali dirinya dengan ilmu pengasihan lebih mudah sukses dalam kehidupannya. Karena akan lebih dikasihi banyak orang, diterima dimana saja, mudah bergaul jadi banyak teman dan saudara, cepat dapat pasangan, diperlakukan baik oleh siapa saja apalagi oleh calon mertua atau atasan/boss, mudah dipercaya teman/relasi/konsumen/klien, mudah cari kerja, mudah tembus tes wawancara pekerjaan dan akhirnya rejekipun jadi lancar, ibarat air sungai yang mengalir tanpa ada hambatan yang berarti.


PUASA WETON


Dalam bahasa Jawa “Weton” berasal dari kata dasar “Wetu” yang bermakna “keluar” atau lahir. Kemudian mendapat akhiran –an yang membentuknya menjadi kata benda. Yang disebut dengan weton adalah gabungan antara hari dan pasaran saat bayi dilahirkan kedunia. Misalnya Senin Pon, Rabu Wage, Jumat Legi atau lainnya.Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon adalah nama-nama pasaran (untuk lebih jelasnya anda bisa menyimak di artikel Kajian Hari).

Jadi pengertian Puasa Weton adalah puasa yang dilakukan pada hari kelahiran berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang berputar selama 35 hari. Artinya diperingati setiap 35 hari sekali. Berbeda dengan acara ulang tahun yang diperingati setahun sekali.

Amalan Puasa Weton merupakan ajaran mulia dari para leluhur, guna menghayati dan menghargai kelahirannya diri kita ke alam dunia ini. Falsafah sederhana puasa weton ini adalah hari lahir merupakan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Jadi pada hari tersebut, kembali kita mengingat kasih Tuhan yang begitu besar dalam hidup kita. Dengan harapan, agar kita ingat bahwa lahirnya manusia dimuka bumi ini membawa kodrat. Kalau dalam istilah Quran, diturunkannya manusia dimuka bumi ini adalah sebagai khalifah / pemimpin (Al-Baqarah: 30).

Layaknya sebagai seorang khalifah adalah membawa berkah dan rahmat bagi alam semesta. Bukan untuk merusak apalagi membinasakan alam atau sesama manusia.

Setiap diri yang selalu ingat kepada kodratnya ini maka akan menjadi pribadi-pribadi yang mulia, bijaksana dan penuh kasih sayang kepada sesama dan seluruh alam. Maka kehidupannya akan senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Amalan puasa Weton memang tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah. Sebab ini adalah salah satu cara para leluhur Jawa berpuasa. Tidak ada hubungan dengan aliran agama tertentu. Jadi boleh diamalkan oleh semua orang, apapun agama dan keyakinannya. Walaupun demikian sesungguhnya amalan ini tersirat dari perilaku puasa Rasulullah Muhammad SAW. Anda bisa simak hadist tentang puasa Sunah Senin-Kamis. Seperti hadist berikut ini.

Nabi ditanya tentang puasa hari Senin lalu beliau menjawab, “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan hari dimana aku diutuskan sebagai Nabi, atau dimana diturunkannya wahyu pertama padaku”. (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i, sanadnya shahih).

Dari Hadist tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Islam boleh hukumnya mengkhususkan ibadah pada hari tertentu yang dianggap memiliki arti istimewa (baik). Juga diperbolehkan memperingati hari lahir dengan berpuasa. Atau beribadah sunnat lainnya karena ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi SAW saat hari kelahirannya. Dan ini tidak termasuk kategory bid’ah yang dilarang seperti yang sering dituduhkan segelintir golongan umat Islam yang mengaku-aku pengikut sunnah.

Ritual Weton

Dalam kaitannya dengan weton, orang Jawa memiliki tradisi yang disebut “selapanan”, yaitu memperingati weton kelahiran, yang berputar selama 35 hari itu dengan melakukan lelaku prihatin. Misalnya dengan lelaku berpuasa “ngapit”, mutih, melek (tidak tidur) dan menyediakan sesaji sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME.

Yang dimaksud dengan Puasa Ngapit adalah berpuasa 3 hari, yaitu pada hari weton, ditambah 1 hari sebelum dan sehari sesudahnya. Ada pula yang cukup dengan ritual Mutih, yaitu selama beberapa hari hanya makan nasi putih dan air putih tawar saja tanpa puasa, jadi boleh makan-minum kapan saja. Ada juga lelaku puasa 3 hari sebelum hari weton, 5 hari sebelum weton dan berbagai jenis cara puasa lainnya.

Adapula ritual melek (tidak tidur) selama 24 jam yang dimulai dari saat Matahari terbenam saat masuk hari wetonnya. Dan diakhiri ketika matahari terbenam dihari wetonnya. Sambil menghidangkan sesaji berupa variasi 4 warna bubur dan sesaji lainnya yang memiliki arti simbolik yang luhur.

Dan masih ada berbagai macam jenis tatacara ritual lainnya yang berkembang di masyarakat dalam rangka memperingati Weton Kelahiran ini. Walaupun tatacara berbeda-beda tetapi intinya sama yaitu sebagai bentuk lelaku prihatin (riyadhoh). Acara ini sangat jauh berbeda dengan acara ulang tahun jaman sekarang, yang cenderung bernuansa hura-hura bahkan suka cita yang berlebihan dan mengumbar perbuatan asusila.

Adanya perbedaan amalan-amalan lelaku dalam memperingati weton tidak perlu diperdebatkan. Sebab tatacara lelaku dan amalan sangat bergantung dengan kondisi diri dan adat yang berkembang di masyarakat.

Bagi mereka yang tinggal di desa nan asri masih banyak berbagai macam pepohonan hijau dan sungai yang bersih, dalam memperingati weton akan membuat berbagai macam sesaji berupa lauk-pauk hasil dari sawah ladangnya. Seperti nasi golong, daun jati, ikan teri, dan lain sebagainya. Tentu saja mereka tidak merasa kesulitan untuk mendapatkan semua bahan-bahan sesaji tersebut. Tetapi bagi masyakarat kota, yang tinggal di wilayah yang dikelilingi gedung-gedung beton, jarang ada pepohonan, sungai-sungai yang mengalir pun telah tercemar limbah, tiada lagi ikan yang hidup. Akan kesulitan bila untuk memperingati weton sebagaimana tradisi di pedesaan, setiap 35 hari sekali harus menyediakan berbagai macam sesaji dari alam. Maka biasanya tatacara memperingati weton ini setiap kaum adat masyakarat bisa berbeda-beda.

Begitu pula dengan tata amalan Puasa. Bagi mereka yang kehidupannya sudah dilonggarkan dari urusan duniawi akan lebih ringan dalam menjalankan puasa berhari-hari atau ritual tidak tidur semalam suntuk. Namun bagi mereka yang setiap hari masih harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga, anak-istri, akan sangat susah untuk melakukan puasa berhari-hari semacam itu. Sementara ia harus dituntut produktifitas kerja yang tinggi bila tidak ingin dipecat dan kehilangan pekerjaan atau mata pencahariannya. Maka amalan puasa weton pun bervariasi, disesuaikan dengan kondisi diri sang pengamalnya. Yang penting tidak meninggalkan makna yang sebenarnya dari ritual weton.

Di kalangan masyarakat muslim dan pesantren, puasa weton ini biasanya dilakukan lebih dari 1 hari, ini untuk memberi solusi bagi mereka yang wetonnya jatuh pada hari-hari yang dilarang berpuasa di hari-hari tertentu seperti hari Jumat tanpa disertai puasa hari yang lain (Al Hadist). Dan itu sah-sah saja. Tidak ada sesepuh yang melarangnya. Selama suatu tradisi membawa manfaat baik, memang harus dilestarikan.

Di Sanggar Rasa Sejati, kami telah memberikan tuntunan puasa weton. Bisa anda simak di halaman Amalan Anti Sihir. Bisa diamalkan oleh siapa saja. Untuk saudara yang nonmuslim, lafal doa mantra Keselamatan bisa diganti sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Bagi yang dulu pernah membaca, silahkan disimak kembali karena kami telah update, karena dari penjelasan terdahulu ternyata masih banyak saudara-saudara yang masih bingung. Semoga tatacara yang sekarang bisa lebih dimengerti.

Manfaat Ritual Weton

Dari penghayatan dan pengamalan ritual weton yang luhur ini tentu akan membawa dampak baik bagi para pengamalnya. Antara lain :
Sebagai tanda syukur kepada Tuhan YME dan rasa terimakasih kepada kedua orang tua. Meningkatkan iman kepada Tuhan, dan berbakti kepada orang tua.
Sebagai salah satu momen untuk berintropeksi diri, ingat kembali kepada kodrat dan tugas sebagai manusia di muka bumi.
Kembali mengenal setiap unsur yang menyertai diri manusia hidup dimuka bumi ini, yaitu para Sedulur Sejati. Ada pula yang mengartikan Sedulur Papat Kalimo Pancer.
InsyaAllah, dari pengalaman telah terbukti dapat membawa dampak baik bagi kerejekian para pengamalnya. Akan membuka pintu rejeki yang luas dari segala penjuru mata angin.
Diberikan keselamatan dari segala macam bahaya yang nyata maupun magis (sihir).
Dan berbagai manfaat positif lainnya sesuai dengan penghayatan yang bisa dicapai oleh para pengamalnya.
Semua bisa terjadi bila semata-mata ada rahmat dari Tuhan Yang Maha Welas Asih.

Demikian tentang kajian Puasa weton. Semoga bermanfaat.


KAJIAN RAHASIA HARI


Kajian kali ini akan membahas tentang rahasia hari. Tentu saja kajian ini yang akan dibahas adalah yang berkaitan dengan bidang yang kita geluti yaitu ilmu hikmah. Bukan dikaji secara mendetail dari sisi ilmiah (sains). Walaupun tetap memakai dasar ilmu alam (sains).

Dengan mempelajari “Kajian Rahasia Hari” kita akan mengetahui rahasia-rahasia dibalik pemakaian hari dalam sebuah ritual amalan ilmu hikmah. Khususnya Aji mantra Jawa, sebab latar belakang pengetahuan saya adalah mistik budaya Jawa. Bahkan dengan dasar kajian ini bisa sampai digunakan untuk mengenali watak seseorang berdasarkan hari kelahirannya.

Mungkin pernah terbesit rasa ingin tahu dalam benak anda: mengapa amalan ilmu A dimulai hari Senin, Amalan ilmu B diawali hari Selasa dan lain sebagainya.

Penentuan hari dalam suatu ritual atau amalan ilmu memiliki dasar alasan. Para leluhur dan pinisepuh ilmu kebatinan tidaklah sembarangan dalam memberi tuntunan ilmu. Walaupun terkadang sulit diterima nalar, tetapi setidaknya selalu memiliki dasar alasan.

Seperti yang pernah saya katakan dalam artikel “Rahasia di balik Rahasia”. Bahwa: Tak semua Guru paham, tak semua murid mengerti, tak semua pengamal ilmu tahu. Hanya mereka yang senantiasa mengikuti petunjuk Maha Guru, memurnikan tuntunan ilmunya tanpa dicampuri angan dan keinginan (merubah-ubah) yang akan mengerti Rahasia dibalik tuntunan ilmu. Diantaranya adalah “Rahasia Hari”



Pergerakan Alam

Dalam pandangan ahli ilmu hikmah setiap fenomena alam memiliki rahasia dan akan mencerminkan watak (karakter) tersendiri. Termasuk fenomena perubahan “hari” dalam sistem penanggalan. Mengapa bisa demikian? Dikarenakan gerakan bumi tidak pernah berhenti, maka setiap detik posisinya berubah. Untuk kembali pada posisi yang sama, membutuhkan siklus waktu tertentu. Sirklus jam, sirklus hari, bulan, tahun, pasaran (Legi, Pon dsb), Wuku dan lain sebagainya. Pada intinya setiap siklus berhubungan dengan posisi orbit bumi.

Dengan latar belakang tersebut, maka kelahiran manusia dan kejadian di alam semesta ini (misalnya musim) dengan sendirinya akan menempati salah satu siklus diantara siklus-siklus yang ada. Misalnya manusia yang dilahirkan pada hari Senin, akan masuk ke dalam siklus Senin yang telah dihuni oleh banyak orang sebelumnya, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karena itu secara umum mereka menjadi satu wadah yang bernama siklus. Maka berdasarkan ‘Ilmu Titen’ atau ilmu hasil dari mengenali / mengamati dan terus berlangsung turun-temurun, watak seseorang atau pergerakan alam secara garis besar dapat dikenali bahkan diprediksi.



Sirklus Jam


Hari dalam bahasa Jawa disebut “dina” (dino). Sebagaimana telah kita ketahui bahwa satu hari adalah sebuah unit waktu yang diperlukan bumi untuk berotasi (berputar) pada porosnya sendiri. Unit waktu ini bisa berupa detik, menit ataupun jam. Jaman sekarang 1 hari = 24 jam, atau jika dihitung dalam menit, 1 hari = 1440 menit. Jika dihitung dalam detik, 1 hari = 86400 detik.

Jadi Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk sekali berputar pada porosnya. Akibat rotasi ini terjadilah fenomena siang dan malam. Dimana bagian sisi bumi yang menghadap Matahari mengalami masa Siang (terang), sedangkan bagian sisi bumi yang membelakangi Matahari mengalami masa Malam (gelap).

Jutaan tahun yang lalu 1 hari tidak berlangsung lama seperti sekarang ini (24 jam) mungkin hanya 18 jam saja. Penyebabnya karena Rotasi bumi ketika itu berlangsung lebih cepat. Sebab jarak Bulan (Moon) dengan Bumi lebih dekat daripada jarak sekarang. Begitu pula sebaliknya, dimasa yang akan datang (jutaan tahun lagi) 1 hari bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Sebab jarak Bumi dan Bulan semakin menjauh, akibatnya bumi berrotasi lebih lambat. Setiap fenomena alam yang terjadi akan membawa dampak pengaruh bagi penghuni alam khususnya manusia.



Sirklus Tujuh Hari = seminggu

Mencari tahu asal muasal “1 minggu = 7 hari” tidaklah mudah. Cukup sulit mencari kebenaran teori dibalik penentuan “1 minggu = 7 hari”. Banyak teori yang berbeda-beda bahkan saling berseberangan. Ada yang berdasar ajaran agama (kitab suci), Mitos Dewa-dewa penguasa 7 planet, praktek perhitungan geometri primitif dan lain sebagainya.

Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua bangsa meyakini “1 minggu” terdiri dari 7 hari. Misalnya, orang Mesir kuno memakai hitungan 1 minggu = 10 hari. Kalender Maya memakai 13 dan 20 hari dalam seminggu. Orang Lithuania memakai 9 hari dalam seminggu, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan siklus hari dalam budaya Jawa?

Sirklus Hari dalam penanggalan Jawa.

Sedangkan dalam budaya Jawa, sistem sirklus hari ada bermacam-macam. Sebenarnya jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.

Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :
Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran. (Artinya dalam 1 minggu (Pancawara) hanya ada 5 hari)
Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan
Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon
Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.

Namun jaman sekarang yang biasa dipakai hanya 2 jenis minggu saja, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Misalnya Senin Legi, Selasa Pahing dan seterusnya. Perubahan penanggalan Jawa ini terjadi masa pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo di Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah. Saptawara dipakai karena dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedangkan Pancawara tetap dipakai karena melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.

Dalam kajian kali ini kita hanya akan membahas Perhitungan hari dengan siklus 7 hari. Atau dalam bahasa Jawa disebut Saptawara (Padinan) dan Sirklus 5 hari (Pancawara).

Dalam kitab Primbon, dijelaskan orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Ahad (Minggu).
Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI yang bersinar sebagai sumber kehidupan.
Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN yang bercahaya tanpa menyilaukan.
Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API yang berpijar.
Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI menjadi tempat makhluk hidup.
Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN yang bergerak dan petir yang menyambar.
Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG yang mirip titik-titik air yang menyejukan.
Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR sebagai sumber kehidupan.

Perlu dipahami bahwa penyebutan elemen (anasir) ini hanyalah sebagai simbol. Bukan merupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali watak (karakter) hari.

Arti Nama Hari

Dalam penyebutan nama-nama hari disetiap bangsa juga memiliki perbedaan. Dan tentu saja memiliki makna dan alasan tersendiri. Sedangkan nama hari dalam penanggalan Jawa sejak masa pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kerajaan Mataram Islam memakai istilah Arab yang sudah dilafalkan dalam lidah Jawa. Sebelumnya nama hari masih memakai istilah Jawa kuno yaitu :

Nama Hari Siklus 7 hari, Saptawara = Padinan:
Radite = Akad
Soma = Senen
Anggara = Slasa
Budha= Rebo
Respati = Kemis
Sukra = Jemuwah
Tumpak/Saniscara = Setu



Asal kata dan Arti nama Hari (Padinan)
Akad (minggu), berasal dari kata Arab “ahad”, yang berarti hari pertama.
Senen (Senin), berasal dari kata Arab “istnain”, yang berarti hari kedua.
Slasa (Selasa), berasal dari kata Arab “tsalatsah”, yang berarti hari ketiga.
Rebo (Rabu), berasal dari kata Arab “arba’ah”, yang berarti hari keempat.
Kemis (Kamis), berasal dari kata Arab “khamsah”, yang berarti hari kelima,
Jemuwah (Jum’at), berasal dari kata Arab “jumu’ah”, yang berarti hari untuk berkumpul,
Setu (Sabtu), berasal dari kata Arab “sab’ah” (sabat), yang berarti hari ketujuh.

Jelas bahwa nama-nama hari yang sampai sekarang digunakan itu (Senin, Selasa dst) merupakan perpaduan peradaban Islam dan kebudayaan Jawa. Dipakai sejak pergantian Kalender Jawa asli (Tahun SAKA) menjadi kalender Jawa Sultan Agung (Anno Javanico – Tahun AJ). Pergantian kalender itu mulai 1 Sura, tahun Alip 1555. Yang jatuh pada tanggal 1 Muharam 1042. Atau bertepatan dengan kalender Masehi 8 Juli 1633. Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun Saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun Saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali.

Tahun Jawa dan tahun Islam (hijriyah) adalah penanggalan Qomariyah atau sistem Lunar (bulan) yang mengikuti peredaran bulan kepada bumi. Maka perhitungan hari pun dimulai pada senja hari, saat awal munculnya rembulan malam atau saat Maghrib.

Sedangkan tahun Masehi dan tahun Saka Hindu adalah penanggalan Syamsiyah atau sistem solar (Matahari) yang mengikuti peredaran bumi terhadap Matahari. Pergantian hari dalam penanggalan Masehi yang dimulai pada pukul 12 malam.

Untuk diketahui, dalam amalan ilmu-ilmu Rasa Sejati ini juga memakai penanggalan Jawa & Islam yaitu memakai sistem Lunar (bulan), perhitungan hari dimulai saat Maghrib.


KAJIAN RITUAL PANTANG NASI


Ritual pantang nasi biasanya dilakukan apabila seseorang hendak mencapai tingkatan kehidupan yang diinginkan, atau sedang memiliki hajat yang sangat penting, mendesak dan menginginkan keberhasilan tanpa takut gagal. Orang Jawa beranggapan perlunya sebuah lelaku prihatin bila menginginkan sesuatu agar dapat berhasil dengan baik dan selamat. Salah satu jenis lelakunya adalah ritual pantang nasi.

Pengertian ritual pantang nasi yang sebenarnya adalah ritual yang berpantangan “wohing dhamen” (hasil yang keluar dari tanaman jerami), maksudnya menghindari makanan dari padi, ketan dan gandum. Jadi selama ritual yang boleh dimakan hanyalah buah-buahan dan sayuran. Adapun tentang daging, telur dan susu (yang keluar dari hewan) dinilai tetap diperbolehkan untuk dimakan namun dalam batas yang sangat sedikit. Dan ritual ini tanpa disertai puasa, artinya boleh makan-minum kapan saja.

Hakekat ritual pantang nasi adalah pengekangan diri untuk tidak bermegah-megahan, hidup rendah hati dan bersahaja. Sebagaimana kita ketahui bahwa tanaman padi, ketan dan gandum adalah jenis tanaman yang membutuhkan pemuliaan untuk dapat panen. Mulai dari awal pembajakan tanah, pengaturan irigasi, penyemaian benih, perawatan harian & berkala sampai akhirnya pemanenan, tanaman tersebut selalu mendapatkan perlakukan khusus dan istimewa. Oleh sebab itu ritual menghindari wohing dhamendimaksudkan agar dapat menyugestikan diri untuk lebih hidup bersahaja dan tidak berlebih-lebihan.

Dalam budaya Cina, orang Cina melakukan lelaku dengan tidak makan nasi, hanya makan bubur sebelum mencapai kesuksesan. Walaupun sebenarnya bisa jadi itu sama saja masih berbahan beras (hehe..) tapi bubur memang banyak macamnya tak hanya berasal dari beras. Pada intinya dalam ajaran budaya Jawa maupun Cina menekankan bahwa saat meniti jalan kesuksesan kita harus mampu menahan diri untuk tidak bersenang-senang secara berlebihan dan tidak mudah tergoda untuk segera “menikmati hasil”. Dalam ilmunya Robert Kiyosaki, kita tidak boleh tergoda untuk memiliki Liabilitas, sebelum Asset kita benar-benar bekerja menghasilkan kekayaan.

Demikian kajian tentang ritual pantang nasi, semoga dengan lebih memahaminya dapat meningkatkan penghayatan anda


SEGALA HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN GHOIB PASTI ADA KONSEKUENSINYA


Hari itu jam 6 pagi Matahari bersinar cerah, udara juga bersih dan sejuk. Selepas senam Meditasi Prana, saya berniat jalan-jalan pagi. Ketika sedang melintasi ujung gang pertigaan tiba-tiba terlihat pancaran sinar merah dari pohon Matoa depan rumah tetangga. Biasanya itu adalah pancaran sinar dari benda ghaib atau pusaka. Saya tidak tertarik dengan benda ghaib semacam itu apalagi mengambilnya. Saya hiraukan saja dan terus melanjutkan perjalanan pagi itu.


Setelah kembali sampai rumah, sebelum memulai aktivitas kerja sehari-hari, saya sempatkan online untuk sekedar membalas komentar blog ini, bila memang ada. Baru beberapa menit tiba-tiba seorang teman menelpon, suaranya serak-serak, seperti sedang sakit dan gugup. Dia adalah pemilik rumah yang tadi pagi saya melihat sinar merah di pohon Matoa. (Karena alasan menjaga privasi kami rahasiakan nama dan alamat).

Beliau lalu datang ke rumah untuk konsultasi. Setelah bertemu saya dapati memang ada kejanggalan dengan dirinya. Singkat cerita, ia mengeluh bahwa akhir-akhir ini badannya terasa tidak sehat. Lemas dan tidak bertenaga. Bermula sejak ia memungut sebilah keris kecil seukuran kira-kira 20 cm yang dia temukan didepan rumah, samping pohon Metoa pada malam Jumat. Daripada menerka-nerka, saya katakan kepadanya nanti sebelum berangkat kerja saya usahakan bisa mampir untuk melihatnya.

Ternyata Keris tersebut ber-LUK (lekuk) lima dengan ujung pesi berbentuk kepala orang. Ia dapati keris tersebut dalam posisi berdiri tegak, dan saat itu malam Jumat jam 1 malam. Ia pernah berkonsultasi dengan rekannya yang mengerti hal ghaib, menurut rekannya keris tersebut mengandung energi ghoib yang besar dan memiliki tuah untuk kemudahan rejeki. Maka disarankan untuk dirawat, diolesi minyak wangi dan disimpan dengan baik. Tetapi ternyata baru beberapa hari menyimpan keris tersebut efeknya membuat dirinya lemas, lesu dan tidak bergairah hidup.

Saya bertanya kronologis penemuan keris tersebut. Sebab saya merasa ada yang janggal. Ketika menghubungkan kemunculan keris dengan sinar merah yang tadi pagi saya lihat didepan rumahnya itu. Akhirnya dia jujur bercerita bahwa pada malam Jumat itu bersama 4 kawannya sedang ngobrol santai di teras rumah. Lalu seorang rekannya dengan sengaja “memunculkan” benda pusaka dari alam ghaib. Muncullah keris dan beberapa batu. Jadi sebenarnya keris tersebut adalah hasil penarikan dari alam ghaib.

Lalu dengan sejujurnya saya katakan, sebaiknya labuh saja keris tersebut. Labuh adalah melarung / melepas / membuang benda pusaka ke sungai / laut. Sebab keris tersebut beraura panas dan tidak baik untuk dirawat apalagi disimpan.

Tampak ada rasa kecewa dimukanya, seperti tidak rela untuk melarung keris tersebut. Maka saya katakan: “ini hanya pendapat saya, bila Mas tidak percaya juga tidak mengapa. Atau anda ingin berkonsultasi dengan orang lain juga lebih baik. Terserah anda saja.” Setelah berpikir sejenak kemudian ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli keris (orang yang mendalami ilmu perkerisan) yang ia lebih percayai.

Ketika melihat keris tersebut sesepuh pun hanya tersenyum kecil. Lalu menyarankan untuk melarungnya saja. Sebab menurut beliau keris tersebut adalah keris tumbal. Maksudnya keris yang sering digunakan sebagai tumbal saat acara pendirian rumah, ruwatan, pembuat jalan atau acara lainnya.

Tentu saja keris jenis ini tidak baik untuk disimpan. Jelas beraura panas dan berefek merugikan. Kalau orang Jawa mengistilahkan “brangasan”. Dan sudah terbukti terasa efeknya terhadap kesehatan pemungutnya.

Dia mengatakan masih bimbang untuk melepaskannya. Merasa tidak enak hati dengan rekan-rekan yang malam itu telah melimpahkan keris tersebut kepadanya. Dan dia telah berjanji bersedia merawatnya. Saya pikir disinilah mulai ada lingkaran setan. Ia telah memasang belengu pada dirinya sendiri, meskipun atas ketidaktahuan.

Akhirnya harus memilih keselamatan diri pribadi atau janji. Ia pun merelakan keris yang didapatnya melalui fenomena supranatural itu untuk dilarung di sungai.

Beberapa hari kemudian ia memberi kabar masih merasakan efek negatif yang menyelimuti dirinya. Bahkan semakin menjadi dan terasa berat tekanan dibadan. Situasi ternyata belum membaik. Pancaran aura merah di pohon Metoa yang pagi itu saya lihat ternyata adalah serangkaian dari ghaib yang turut “tertarik” saat mereka melakukan penarikan keris itu ke dunia materi manusia. Namun belum sempat mewujud dalam bentuk benda. Energi keberadaannya masih bersemanyam di pohon Metoa. Ada 3 ghaib.

Ia meminta saya untuk memindahkan energi ghaib khodam JIN tersebut, tetapi saya menolaknya, saya katakan bahwa ada orang yang lebih berkewajiban melakukannya. Yaitu rekan-rekannya yang kala itu melakukan ‘penarikan’. Berani memulai, harus berani untuk menyelesaikannya pula. Berani bertanggungjawab.

Telah lebih dari 10 hari sejak pengangkatan benda ghaib tersebut, ia masih terus merasakan efek ghoib dibadannya. Membuatnya lemas dan pikiran kacau. Setelah sedikit demi sedikit penyebabnya sudah mulai diatasi, meski belum sembuh total tetapi keadaannya telah lebih baik.

Ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua tentang dunia ghaib dan efeknya. Agar mendayagunakan kemampuan ilmu yang dimiliki dengan lebih hati-hati.

Menyimpan dan merawat keris itu boleh saja, tetapi tentunya keris yang memiliki nilai adiluhung tinggi atau memiliki histori (sejarah) yang baik. Bukan dipandang dari bertuah atau tidak. Bukan pula karena hasil tarikan dari alam ghaib. Bukan sembarang keris pungutan. Saya pribadi senang menggeluti mahakarya leluhur yang disebut keris ini. Bukan karena tuah-nya tetapi karena keindahan bentuk keris itu sendirinya. Selama ini saya hanya menyimpan keris yang sudah “dibersihkan” dari unsur-unsur khodam (JIN). Sehingga keris tidak lagi dianggap mistis, klenik, keramat atau dijauhi orang dengan alasan bila menyimpannya dianggap syirik. Tragis bila mahakarya luhur ini pada akhirnya nanti tidak ada anak cucu yang mau menyimpan apalagi melestarikannya, karena alasan klenik dan dianggap syirik.

Padahal pada kenyataannya keris adalah sebuah mahakarya dari para leluhur pada jamannya yang sampai kini nilai seninya telah diakui dunia. Seharusnya ini bisa menjadi suatu kebanggaan bangsa, seperti halnya karya Sastra, Batik, Gamelan (alat musik) dan candi Prambanan, candi Borobudur yang menjulang tinggi nan megah.


Fenomena ghaib memang selalu terlihat memukau dan memikat hati. Tetapi dari dulu kami sering mengatakan agar OJO GUMUNAN (jangan mudah terpukau) oleh fenomena keajaiban ilmu ghaib ini. Serta berhati-hatilah sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan ghaib pasti selalu ada konsekuensinya.

Inilah sekelumit cerita kehidupan disekeliling saya beberapa hari ini. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik bagi pembaca blog Rasa Sejati. Mohon maaf bila ada tutur kata yang kurang berkenan dihati. Nuwun.


Kunci Sukses Belajar Ilmu Ghoib


Agar suatu kegiatan itu dapat berjalan dengan baik & lancar dan berhasil dengan sukses maka dibutuhkan suatu rencana atau persiapan yang matang. Begitu pula dalam mempelajari ilmu-ilmu hikmah / ilmu keghoiban (Jawa: Ngelmu). Seseorang yang hendak belajar ngelmu tidak boleh tergesa-gesa, supaya tidak terjadi kesimpang siuran (menyimpang/sesat) dan kacau balau (gila). Upaya pertama yang harus dilakukan oleh calon murid adalah kesiapan batin. Dalam hal ini ada baiknya diawali dengan berkonsultasi dengan orang yang telah ahli dalam ilmu gaib dan juga kepada ahli ilmu agama yang diyakininya.

Dalam mempelajari ngelmu dibutuhkan suatu persiapan supaya tahu terapan ilmu batin tersebut. Dengan jalan, memperhatikan dan memahami maknanya. Duduk dengan tenang, penuh kesadaran, pahami apa yang sedang dilakukan. Tentu saja sedang mempersiapkan diri untuk mempelajari suatu ngelmu. Persiapan yang penting untuk belajar ngelmu adalah tahu betul bahwa dirinya telah siap untuk belajar.

Kemudian berkonsentrasi fikiran barulah menelaah fatwa-fatwa ajaran yang tersirat dari ngelmu tersebut. Kalau tidak dapat berkonsentrasi maka akan kacau balaulah akibatnya dan gagallah yang akan didapat. Setelah dapat berkonsentrasi, barulah memulai dengan petunjuk yang utama terdiri dari empat perkara.

Jadi jika disimpulkan syarat keberhasilan bagi yang akan memperdalam suatu ilmu hikmah atau ngelmu adalah sebagai berikut:
Sadar, bahwa dirinya akan mempelajari ngelmu mistik (gaib).
Konsentrasi fikiran, jangan tumpangsuh fikirannya.
Faham arti empat perkara, yaitu:

Mantep, artinya mantap dengan penuh keyakinan untuk mempelajari ilmu tersebut.
Temen, artinya tekun atau bersungguh-sungguh
Gelem nglakoni, artinya mau menjalani, walau apapun yang terjadi tetap menghayati ngelmu tersebut.
Ojo gumunan, artinya jangan mudah heran atau terpukau, terpesona, terhadap keajaiban yang ditimbulkan oleh ngelmu.

Karena bila rasa heran itu timbul / muncul, maka proses ngelmu itupun akan berhenti. Dampak dari gumun (heran) itu adalah hancurnya konsentrasi.



Bila terapan ilmu batiniah itu telah dipahami benar maka sudah saatnya untuk memulai. Dengan bermodalkan ketekunan dan sabar maka ngelmu itu akan berhasil dipelajari.

Renungkan dengan kesungguhan hati, untuk merenungi tuntunan ngelmu ini. Pada titik jenuh, maka akan terbukalah keberadaan.


Rabu, 09 Mei 2012

Macam-macam Puasa Dalam Budaya Spiritual Jawa


1. Mutih
Dalam puasa mutih ini seseorang tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya dan membaca mantra ini : “niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahir dipun ijabahi gusti allah.” (Saya berniat Mutih, mensucikan badan yang kotor, putih suci seperti bayi yang baru lahir atas perkenan Allah). Dalam Kejawen ritual ini ada 2 jenis,
MUTIH: boleh makan dan minum kapan saja, asal yang dimakan dan diminum nasi putih dan air putih tawar.
PUASA MUTIH : Siang hari tidak boleh makan-minum, layaknya seperti puasa biasa, Buka dan sahur hanya dengan nasi putih dan air putih tawar.
PUASA MUTIH NGEPEL : Sama seperti Puasa Mutih diatas, cuma banyaknya nasi untuk Buka dan Sahur cuma 1 kepal dan 1 gelas air putih tawar.

2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran atau buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur, terasi dan sebagainya.

3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahayapun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4. Pati geni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaannya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah mantra puasa patigeni : “niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Allah taala”. (Saya berniat Patigeni, memadamkan hawa panas (nafsu) di badan saya, matikan api (hawa) nafsu angkara murka, Karena Allah Yang Maha Esa).


5. Ngelowong
Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja! Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.

11. Senin-kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari Senin dan Kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan agama Islam. Karena memang Rasulullah SAW menganjurkannya.

12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.

13. Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam

14. Lelono
Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).

15. Kungkum
Ritual berendam didalam air, seperti sungai, pertemuan 2 sungai, mata air, sendang, telaga dan sebagainya selama waktu tertentu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan Tatacara Tapa Kungkum adalah sebagai beikut :
Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai.
Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana
Sebelum melaksanakan Kungkum, disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu). Ini dilakukan bila ritual kungkum untuk wejangan ilmu.
Dilaksanakan pada malam hari, mulai jam 10, 12 malam atau jam 3 dini hari. Lama sesuai kebutuhan 30 menit, 1 jam sampai 3 jam.
Pada saat akan masuk air baca mantra ini : “ Putih-putih mripatku Sayidina Kilir, Ireng-ireng mripatku Sunan Kali Jaga, Telenging mripatku Kanjeng Nabi Muhammad.”
Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembarpun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air setinggi leher atau pundak.
Menghadap melawan arus air.
Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada.
Mulai Meditasi, Nafas teratur, konsentrasi fikiran dan hayati.
Tidak boleh tertidur selama Kungkum.
Tidak boleh banyak bergerak yang tidak perlu.
Kungkum dilakukan selama 3 atau 7 malam berturut-turut.

16. Ngalong
Tapa ini dilakukan dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.

17. Ngeluwang
Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dan lain sebagainya). Sebelum masuk kekubur, disarankan baca mantra ini :
“ Niat ingsun Ngeluwang, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu marang jiwa ingsun, lebur kaya dene banyu krana Allah Ta’ala.” (Saya berniat Ngeluwang, menutupi badan yang berlubang (9), siapapun yang datang, mati! yang mengganggu jiwaku akan melebur seperti Air! Karena Allah Yang Maha Esa).